Jumat, 05 Desember 2014
Bersemayam Di Kabut Dieng
Kabut tebal serta cuaca dingin menjadi tantangan dalam menggapai keindahan Dieng yang berbalut cerita kuno di dalamnya. Sejak abad ke 7 Masehi atau malah sebelumnya dieng tetap dieng … yang indah tak terkira. Hasrat pergi ke Dieng sebenarnya sudah ada sejak lama, dan akhirnya sabtu 29 november aku, lavina sahabatku serta sahabat2 yang lainnya berangkat kesana.. namaun sedikit ada kekecewaan karena ujan terus mengguyur dieng, kami pun gagal untuk menikmati indahnya sunrise karena hujan dan kabut tebal, meski begitu kami tetap bahagia menghabiskan weeked kita di sana bercanda tawa dengan orang orang tercinta..dan memberi kesan bahagia yang luar biasa.. dan banyak hal yang tak tak dapat terungkapkan namun tetap bersemayam bahagia di jiwaaa… Thank too All
Jumat, 14 November 2014
Realita Cinta
Ku tak pernah mimpikan ini
Bertemu denganmu tak terbayang
Ku yakin Tuhan mau
Kita bersatu dalam realita
Mengakhiri semua drama
Drama selama ini dan untuk sekarang
Hanyalah ada aku sayang
Hanya aku selalu di sampingmu
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Mungkin, Aku bukan yang terbaik
Masih banyak salah didiriku
Yang bisa menjadikan
Ombak akan berlabuh di pantai biru
Ku hanya tahu satu hal
Kaulah yang diutus Tuhan
Aku cinta padamu
Akulah realita cintamu
Sekarang dan untuk selama-lamanya
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Kita buktikan pada dunia
Cinta dan cinta kita yang terbaik..
Kita bersatu dalam realita
Mengakhiri semua drama
Drama selama ini dan untuk sekarang
Hanyalah ada aku sayang
Hanya aku selalu di sampingmu
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Akulah realita cintamu
Sekarang dan untuk selama-lamanya
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Akulah realita cintamu
Sekarang dan untuk selama-lamanya
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Bertemu denganmu tak terbayang
Ku yakin Tuhan mau
Kita bersatu dalam realita
Mengakhiri semua drama
Drama selama ini dan untuk sekarang
Hanyalah ada aku sayang
Hanya aku selalu di sampingmu
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Mungkin, Aku bukan yang terbaik
Masih banyak salah didiriku
Yang bisa menjadikan
Ombak akan berlabuh di pantai biru
Ku hanya tahu satu hal
Kaulah yang diutus Tuhan
Aku cinta padamu
Akulah realita cintamu
Sekarang dan untuk selama-lamanya
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Kita buktikan pada dunia
Cinta dan cinta kita yang terbaik..
Kita bersatu dalam realita
Mengakhiri semua drama
Drama selama ini dan untuk sekarang
Hanyalah ada aku sayang
Hanya aku selalu di sampingmu
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Akulah realita cintamu
Sekarang dan untuk selama-lamanya
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Akulah realita cintamu
Sekarang dan untuk selama-lamanya
Kamu dan aku satu
Sampai bumi tak bundar lagi
Senin, 25 Agustus 2014
Kamis, 27 Maret 2014
menara masjid agung semarang
Di dalam area MAJT terdapat Menara Asma Al-Husna Setinggi 99 Meter terdiri dari : lantai 1 untuk Studio Radio DAIS MAJT, lantai 2 untuk museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Lantai 18 rumah makan berputar, lantai 19 Gardu pandang kota Semarang dan lantai 19 Tempat rukyat al-hilal.
Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.
Samphokong
Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".
Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu., orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimeklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.[1]
Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia merapat ke pantai utara semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.
Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
Lawang Sewu
Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero
Selasa, 11 Maret 2014
PASANGAN SERASII
nii pasangan baru yang memberiku inspirasii dan semangat baru.. kag bean dan mbk renii.. katanya nii ya.. vean mahardika udah jomblo selama 5 tahun padahal ia seorang pria yang ganteng..gagah..pinter..seorang kreatif transtv jugaa.. pastii gk sedikit yang naksir tapii buktinyaa ia mampu jomblo selama 5 tahun karena ia ingin memiliki yang terbaik jadii intinnya kalau ingin dapat yang terbaik perlu sabar do'a dan ikhtiar yang maksimal ntr dehh hasilnya seperii vean mendapatkan yg terbaik yakni renii resty seorang presenter cuuuantiikk pinter manis lengkap wanita perfect ada padanyaa.. sangat sangat serasii mereka....
mereka memberi inspirasi untukku agar aku gak tergesa gesa mencari pacar..tapi mencarii pendamping yang teerrrrrrrbuaiiikkk biar hasilnya juga maksimal mendapatkan sesorang yang diidamkan..AMIN ya ALAH
Selasa, 04 Maret 2014
UNTUKMU IMAMKU
Untukmu Imamku
Terlintas tanya hati
Siapakah yang kan mengisi
Hari-hariku nan penuh cinta
Yang kan membawa ke surga
Dia yang mencintaiku
Dan semua kekuranganku
Yang kan membimbingku di dunia
Menuju cinta yang Kuasa
Untukmu Imamku
Kuserahkan segala cintaku
Cinta yang kan menuntunku
Menggapai cintaNya
Bersama denganmu
Untukmu Imamku
Kuberikan kesetiaanku
Berdua memadu janji satu
Sambut cintaku hanya untukmu
SENANDUNGKU
Apapunyang digariskanNYA adalah yang terbaik untukku..
Tak tau kenapa aku baru menyadari bahwa apapun yang ALLAH gariskan untuk q ,,aku merasa itulah yang terbaik meskii awalnya q menangisinya ..meski awalnya aku kecewa..dan terluka …
Masih seputar asmara………
Semenjak perpisahanku dengannya 6 bulanan yang lalu yahhh memang sudah lama siii tapii tak tau kenapa q seneng mengingatnya,,, itu bukan karna aku masih ada rasa atau ingin mengulangnya..gak sama sekali… aku memang seneng mengingat kisahku kemarin dengannya karna mungkin eman- eman jika hanya dilupakan tanpa dikenang karena menurutku terlalu indah kenangannya sangat maniss kayak tea juss gituuu dehhh seger meski ada asem2nya ……..
Aku binggung mau cerita darii mana…emmmmmm mulai berpisahan waktu itu kali ya… usai putus itu q ada ppl dan aku dapat tugas 3 bulan di smk n 1 kudus.. padahal dulunya waktu aku masih mts q pengen banget bisa skolah di smk sana tapi gak keturutan..setelah kuliah malah dapat tugas disana…tuuu kebetulan banget kan!!!!!!!!!!!!!!!…udah gituu pas ppl dismk aku ktmu sama mantan di kelas 2 sma duluu… hemmm jadii inget dehh pas pacaran di sma duluu dengannya bernostalgiia gituu !!!…padahal tu ya usai pts ma mantan yg pas kelas 2 sma itu q hilang kontak gak komunikasi ,hubungan setelah pts juga gak terlalu baik..ehhhh Alhamdulillah banget diketemui di smk pas ppl nahh di situu deh kita bisa bareng2 lagiii bisa bercanda bareng memperbaiki hubungan yang dulu gak terlalu baik usai putuss tapii Cuma sekedar teman lhoo ya soalnya diia udah punya pacar…tapii ya g pp sii pntg hubunganku dengannya ttp baik2 ajaaa…. Setelah tak pikir2 lhoo ya untung banget q pas ppl sama mantan R itu udah putus dari F coba kalau masihh pacaran..uhfff pastii deh cemburuan banget,,apa lagi q sering boncengan ma dia pas ppl duluu….q ngerasa ALLAH maha baik q diketemui ma R di smk sewaktu udah pts coba kalau aku masih pacaran sama F pastii kasihan diia makan atii terus…nah itulah jalan terbaik yang diberikan ALLAH untkku….
Keduanya niie ya aku ada tugas kampus kkn de jepara..awalnya aku bimbang sedih gak ada teman yang aku kenal disana hidup sbulan bareng2 serumah pula..ngenes pas bayangiinnn….eeeeee ternyata setelah aku jalanii justruu pas kkn itulah aku dapat teman2 baru yang sangat solit sangat baik.. ada 15 org dlm satu posko hidup bersama merasa sangat bebas pula mpe di panggil mama papa juga di sana..hemmmmmmm pokok’nya aku merasa punya banyak cinta darii teman2 kkn kuu…. Luv_ u buat kalian smuuuaaa…
Meskiii sekarang q gak punya pacar usai pts dari F 7 bulan yang lalu tapii gak tau kenapa aku malah merasa bahagiiaa merasa banyak cinta dari orang2 sekitar makin banyak teman gak pernah ada kesepian
Yang aku fikirkan sekarang hanya ingin konsen diskripsi..lancar dikuliah dapat kerja dan ketumu deh ma jodoh yang Allah kasih..INSYAALLAH..!!!!!
Dulu pas acaran beberapa tahun udah pernah ngerasain smua asam manis cinta ketemu sama camer jalan2 ma caper diapelin yah pokoknya smua kenangan semua hal2 indah tentang pacaran udah aku rasain semuaa tapi endingnya putus juga.. dari banyak perjalanan cinta itulah aku belajar bahwa aku berharap esuk dipertemu sama seseorang yang yang lebih baik dari kemarin yang dewasa karismatis,berpendidikan tinggi,,punya pekerjaan yang bagus,,menyayangii segala yang ada pada diriku,,saying keluargaku..dan gak lama2 pacaran langsung nikah dan tentunya orang pemimpin yang bisa membawaku lebih dekat kepadaNYA ..AMIEN…yah smoga saja….
Minggu, 02 Maret 2014
DUMA_JUDIKA ''SAMPAI AKHIR"
Kasih ku berjanji
selalu menemani
Saat kau bersedih,
saat kau menangis
Aaaa.. kan ku jaga
Aaaa.. segenap cinta yang ada
Untukmu
Selama nafasku masih berdesah
Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Takkan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini
Kasih ku berjanji
selalu menemani
Saat kau bersedih
saat kau menangis
Aaaa..
kan ku jaga
Aaaa..
segenap cinta yang ada Aaaa.
percayalah Aaaa..
satu cintaku untukmu
Selama nafasku masih berdesah Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Takkan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini Sampai akhir hidup ini
Terpukau ^ ASTRID ^
Aku memang belum beruntung
Untuk menjatuhkan hatimu
Aku masih belum beruntung
Namun tinggi harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
*courtesy of lirik-lagu-dunia.blogspot.com
Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat
Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Lirik lagu fatin dia...dia...diaaa
Selalu ku pikir bahwa aku tegar
Aku tak pernah menyangka kan begini
Dan saat engkau tak di sisiku lagi Baru ku rasakan arti kehilangan
Ingin ku bicara,
hasrat mengungkapkan
Masih pantaskah ku bersamamu
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat engkau pergi,
tak kau bawa hati Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia
telah mencuri hatiku
Dan saat hari dimana kau tinggalkanku
Ku kira semuanya kan baik-baik saja
Dan kini baru ku sadari semua
Dia dia dia
telah mencuri hatiku
Ingin ku bicara
hasrat mengungkapkan
Masih pantaskah ku bersamamu
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat engkau pergi,
tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia telah mencuri hatiku
Ingin ku bicara
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat kau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Ingin ku bicara, hasrat mengungkapkan Masih pantaskah ku bersamamu (bersamamu)
Tuk lalui hitam putih hidup ini (hitam putih, hidup ini)
Saat engkau pergi,
tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia
telah mencuri hatiku
Dia dia dia
telah mencuri hatiku Telah mencuri hatiku
Sabtu, 01 Maret 2014
~*♥ HARAPAN WANITA SHOLEHAH ♥*~
Aku tak mencari seorang suami yg tampan wajahnya atau yg tegap badannya...
Aku juga tak mencari seorang suami yg kaya harta atau yg punya rumah mewah dan mobil banyak...
Aku hanya mencari seorang laki_laki yg benar_ benar t'lah siap menjadi imamku...
Yang dapat membimbingku dalam urusan dunia dan akhirat, yg dapat menuntunku ke arah yg benar...
Yang bisa mengingatkanku ketika aku lelai dalam melaksanakan dan menjalankan perintah_Nya...
Yang bisa menyadarkanku ketika aku berbuat khilaf dan yg bisa
meluruskan akalku dg penuh kelembutan...
Yang bisa menegurku ketika aku alpa pada tanggung jawab dan
kewajibanku sebagai seorang istri yg wajib taat pada suami dan
Robb_Nya...
Yang bisa memaafkanku dg ikhlas atas segala salah dan khilafku...
Agar keluarga yg aku bina bersama dia menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, warahmah...
Ya Allah...
Ku yakin bila saatnya sudah menghampiri, pasti kebahagian itu aku dapati...
Mohon beri aku kekuatan dan kesabaran dalam penantianku...
Ya Allah...
Kirimkan dia yg membawa kebaikkan, baik bagi duniaku, akhiratku dan agamaku...
Agar kami sama_sama berjamaah tuk tetap menuju_MU...
Bimbinglah hati kami, kuatkanlah hati kami, penuhilah dg rahmat dan kasih sayang_MU...
Semoga bermanfaat dan penuh kebarokahan dari Allah...
Aamiin Ya Robbal 'alamiin.
~:*♥ DOA KETIKA JATUH CINTA ♥*:~
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Ya Allah… Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu
Ya Allah… Jika aku jatuh hati, izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. Jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah… Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya, kekalkanlah cintanya,tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Aamiin Allahumma Aamiin Allahumma Aamiin
Ya Allah… Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu
Ya Allah… Jika aku jatuh hati, izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. Jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah… Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya, kekalkanlah cintanya,tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Aamiin Allahumma Aamiin Allahumma Aamiin
Selasa, 25 Februari 2014
riryn arin: sayangilah orang yang menyayangiimu (kisah menghar...
riryn arin: sayangilah orang yang menyayangiimu (kisah menghar...: Kisah Cinta Suami — Pelajaran Bagi Kita Sebelum membaca tulisan ini, siapkan secangkir kopi untuk mengatasi kejenuhan, serta siapkan sec...
sayangilah orang yang menyayangiimu (kisah mengharukan)
Kisah Cinta Suami — Pelajaran Bagi Kita
Sebelum membaca tulisan ini, siapkan secangkir kopi untuk mengatasi kejenuhan, serta siapkan secarik tissue barangkali nanti diperlukan. Tulisan ini saya copas dari -KASKUS-. Mongo disimak..
—————————————————————————————————————
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku.
Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Langganan:
Komentar (Atom)














